KHUTBAH PERTAMA
الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي آوَى مَنْ إِلَيْهِ أَوَى، وَأَعَدَّ لِمَنْ قَصَدَهُ جَنَّاتِ المَأْوَى، أَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ مَا ضَلَّ وَمَا غَوَى، (وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى * إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى)[النَّجْمِ: 3-4]، بَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّى الأَمَانَةَ، وَنَصَحَ الأُمَّةَ، وَأَمَرَ بِالتَّقْوَى، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الهَوَى.
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيْرَ الحَدِيْثِ كلَامُ اللهِ المُنَزَّلِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيٌ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ المُفَضَّل، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَة، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ: أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ -جَلَّ وَعَلَا-، فَلَا سَعَادَةَ إِلَّا بِالتَّقْوَى، وَلَا فَلَاحَ إِلَّا بِطَاعَةِ المَوْلَى، ثُمَّ اعْلَمُوا أَنَّ طَاعَةَ اللهِ خَيْرُ مَغْنَمٍ وَمَكْسَبٍ، وَرِضَاهُ خَيْرُ رِبْحٍ وَمَطْلَبٍ، وَالجَنَّةُ حُفَّتْ بِالمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ، (وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ)[آلِ عِمْرَانَ: 185].
Hadirin yang dirahmati Allah,
Hati adalah bejana kebaikan dan keburukan seseorang, dan ia merupakan sumber munculnya keimanan dan kekufuran. Hati adalah pemimpin anggota tubuh dan yang bertanggung jawab dalam membimbingnya, serta juga sebagai promotor akal seseorang untuk mencapai pengetahuan yang sempurna. Baiknya hati seseorang akan mempengaruhi baiknya anggota tubuhnya yang lain, begitu juga, buruknya hati seseorang, menjadi sebab buruknya anggota tubuhnya yang lain. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah ﷺ:
فَعَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: "سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَقُوْلُ: أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ" (مُتَّفَق عليه).
Dari Nu'man ibn Basyir radhiyallaahu 'anhu berkata, 'Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Ketahuilah bahwa pada setiap tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah tubuh tersebut, dan apabila buruk, maka buruklah tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adalah hati." (Muttafaqun 'alaih)
Hadirin yang dirahmati Allah,
Hati adalah tempat yang menampung kehendak dan keinginan, dan juga sebagai tempat menanggung ujian dan beban seseorang. Kondisi hati yang akan menentukan diterimanya amal dan perhitungannya. Begitu pula, pahala dan hukuman akan dilipat gandakan tergantung dari kondisi hati tersebut.
عَنْ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: "قَالَ رَسُولُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى" (مُتَّفَق عليه)
Dari Umar ibn Khattab radhiyallahu 'anhu berkata, ‘Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (Muttafaqun 'alaih)
Niat adalah sarana untuk melipatgandakan pahala. Allah memberikan ganjaran atas niat baik dan tidak memberikan hukuman atas niat buruk selama tidak dilakukan.
فَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: "قَالَ رَسُولُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: "مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً، وَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَعَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ تُكْتَبْ، وَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ" (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa berniat mengerjakan kebaikan dan belum sempat melakukannya maka akan dicatatkan baginya satu kebaikan. Dan barangsiapa berniat mengerjakan kebaikan dan berhasil mengerjakannya akan dicatatkan baginya 10 hingga 700 lipat kebaikan. Dan barangsiapa yang berniat melakukan keburukan namun belum melaksanakannya maka tidak dicatat, dan apabila dia mengerjakannya maka dicatat 1 keburukan." (HR. Muslim)
Niat adalah syarat diterimanya suatu amal, dan juga syarat dihukumnya seseorang atasnya. Allah ta'ala berfirman:
(وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا)[الْأَحْزَابِ: 5].
"Dan tidak ada dosa atasmu jika kamu khilaf tentang itu, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." [Surat Al-Ahzab: 5]
Hadirin yang dirahmati Allah,
Hati sangat rawan berbalik arah dan mudah berubah, banyak bergejolak dan sering teralihkan.
فَعَنِ المِقْدَادِ بْنِ الأَسْوَدِ -رَضِيَ اللهُ عَنْْهُ- قَالَ: "لَا أَقُولُ فِي رَجُلٍ خَيْرًا وَلَا شَرًّا حَتَّى أَنْظُرَ مَا يُخْتَمُ لَهُ، بَعْدَ شَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-، قِيْلَ: وَمَا سَمِعْتَ؟ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَقُولُ: لَقَلْبُ ابْنِ آدَمَ أَشَدُّ انْقِلَابًا مِنَ القِدْرِ إِذَا اجْتَمَعَتْ غَلْيًا" (رواه أحمد).
Dari Miqdad bin Al-Aswad radhiyallaahu 'anhu berkata, 'Aku enggan terburu-buru mengatakan seseorang itu baik atau buruk hingga aku mengetahui bagaimana akhir hidupnya. Hal demikian karena aku telah mendengar dari Rasulullah ﷺ. Dia ditanya, 'Apa yang kau dengar?' Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh hati anak adam itu rentan bergejolak, ibarat gejolak isi panci yang sedang mendidih." (HR. Ahmad)
Sebagaimana perkataan seorang penyair:
«فَمَا سُمِّيَ الإِنْسَانُ إِلَّا لِنَسْيِهِ *** وَلَا القَلْبُ إِلَّا أَنَّهُ يَتَقَلَّبُ»
"Tidaklah manusia dinamakan insan melainkan karena ia sering lupa, sebagaimana hati dinamakan kalbu karena ia sering berbolak balik."
Allah menguji hati kita melalui fitnah, cobaan dan malapetaka. Barangsiapa jujur kepada Allah dalam urusan niat yang tidak ada satupun yang mengetahuinya kecuali hanya Allah. Maka Allah akan meneguhkan hatinya dalam ketaatan dan mencurahkan kebahagiaan kepadanya di dunia dan di akhirat. Allah ta'ala berfirman:
(يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ) [إِبْرَاهِيمَ: 27].
"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat; Dan Allah menyesatkan orang-orang yang dzalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." [Surat Ibrahim: 27]
فَيَا مُصَرِّفَ القُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا إِلَى الطَّاعَاتِ، وَيَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا إِلَى المَمَاتِ
"Wahai Dzat Yang mengatur hati, tetapkanlah hati kami agar selalu dalam ketaatan, wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hati kami agar terus senantiasa dalam kebaikan hingga akhir hayat kami."
Hadirin yang dirahmati Allah,
Hati manusia berada di antara dua jari dari jari-jemari Allah, Dia membolak-balikkannya sekehendakNya.
فَعَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ قَالَ: "قُلْتُ لِأُمِّ سَلَمَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهَا-: يَا أُمَّ المُؤْمِنِيْنَ، مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- إِذَا كَانَ عِنْدَكِ؟ قَالَتْ: كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ: يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ، قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا لِأَكْثَرِ دُعَائِكَ: يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ؟ قَالَ: يَا أُمَّ سَلَمَةَ، إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌّ إِلَّا وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعَ اللهِ، فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ، وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ" (رواه الترمذي).
Dari Syahr ibn Hausyab radhiyallaahu 'anhu berkata, 'Aku bertanya kepada Ummu Salamah radhiyallaahu 'anha, 'Wahai Ummul Mukminin, apa doa yang paling sering dipanjatkan oleh Rasulullah ﷺ ketika berada di sisimu?' Dia menjawab, 'Doa yang paling sering dipanjatkan oleh beliau adalah, "Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati tetapkanlah hatiku untuk terus dalam agamaMu." Kemudian Ummu Salamah bertanya, 'Wahai Rasulullah, lalu kenapa engkau sering membaca doa tersebut?' Beliaupun menjawab, "Wahai Ummu Salamah, sesungguhnya setiap hati manusia itu berada di antara dua jari dari jari-jemari Allah. Dia meluruskannya atau menyesatkannya sesuai kehendakNya. (HR. Tirmidzi)
(رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ)[آلِ عِمْرَانَ: 8]
“Ya Rabb kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisiMu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi." [Ali Imran: 8]
Sesungguhnya hati membutuhkan ri'aayah (pemeliharaan) dan muraqabah (pengawasan), sebagaimana juga ia membutuhkan tahdzib (perbaikan), tazkiyah (penyucian) dan mutabaah (kontrol). Oleh karena itu Rasulullah ﷺ mengatakan kepada Hushain ibn Al Mundzir,
قُلْ: اللَّهُمَّ أَلْهِمْنِي رُشْدِيْ، وَقِنِي شَرَّ نَفْسِي
"Ucapkanlah: 'Ya Allah berikanlah aku petunjuk dan hindarkanlah aku dari kejahatanku sendiri."
Pada kesempatan yang lain Rasulullah ﷺ pernah mengatakan dalam khutbahnya,
وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا
"Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan-jiwa jiwa kami."
Bersungguh-sungguhlah kalian dalam memperbaiki hati dan menyucikan jiwa, barangsiapa yang memperbaiki urusan batinnya niscaya Allah akan memperbaiki urusan lahirnya dan barangsiapa yang memperbaiki amalan hatinya niscaya Allah akan memperbaiki amalan dzahirnya.
فَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: "قَالَ رَسُولُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ، وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ" (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat perawakan dan rupa kalian, melainkan Dia melihat hati kalian." (HR. Muslim)
Hadirin yang dirahmati Allah,
Perhatikanlah amal dzahir kalian lalu benahilah ia, kemudian perhatikan pula amalan batin kalian lalu sucikanlah ia, lalu bersikap jujurlah kepada Allah niscaya Dia akan mewujudkan keinginanmu dan memberimu keberuntungan untuk meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ)[التَّوْبَةِ: 119].
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُم فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ فَاسْتَغفِرُوهُ، إِنَّهَ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
الحَمْدُ لِلهِ الَّذِي خَلَقَ الإِنْسَانَ وَكَرَّمَهُ، وَمَنَحَهُ العَقْلَ فَشَرَّفَهُ وَفَضَّلَهُ، وَوَهَبَهُ الإِدْرَاكَ فَكَلَّفَهُ وَعَلَّمَهُ، فَسُبْحَانَ مَنْ سَوَّاهُ وَعَدَّلَهُ، وَتَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الخَالِقِينَ.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Ketahuilah bahwa musibah terbesar yang dapat mematikan hati dan menghalanginya dari setiap kebaikan. Serta menghalanginya dari setiap keinginan adalah hati yang keras lagi lalai. Hal itulah penyebab hati manusia menjadi terkunci dan tertutup dari segala kebaikan dan cahaya keimanan. Sehingga memiliki kecenderungan kepada kefasikan dan perbuatan maksiat. Allah ta'ala berfirman:
(وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ)[الْحُجُرَاتِ: 7]،
"Dan ketahuilah bahwa di tengah-tengah kamu ada Rasulullah. Kalau dia menuruti (kemauan) kamu dalam banyak hal, pasti kamu akan mendapatkan kesusahan. Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan, dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus." (QS. Al Hujurat: 7)
Allah juga berfirman:
(أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ)[الْحَدِيدِ: 16]
"Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka) dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik." (QS. Al Hadid: 16)
Hadirin yang dirahmati Allah,
Ketahuilah bahwa hati dapat terjangkiti penyakit bahkan mati, hati juga bisa menjadi kaku dan keras layaknya seperti batu atau bahkan lebih keras. Allah ta'ala berfirman:
(ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً)[الْبَقَرَةِ: 74]
"Kemudian setelah itu hati kamu menjadi keras, sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras." (QS. Al Baqarah: 74)
Jika hati telah kering dan keras, maka ia tidak akan dapat menerima nasehat, tidak lagi dapat menerima hidayah dan tidak akan tunduk kepada kebenaran. Allah ta'ala berfirman:
(أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ)[الْجَاثِيَةِ: 23]
"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan pengetahuan-Nya,dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" (QS. Al Jatsiyah: 23)
Karenanya, teruslah hidupkan hati kita dengan senantiasa mengingat Allah, waspadalah dari kelalaian dan kerasnya hati serta jauhilah segala hal yang telah Allah haramkan.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Tatkala Allah mengistimewakan gumpalan hati di antara sekian anggota tubuh lainnya, dan menjadikannya sebagai tempat bersemayamnya keimanan serta menjadi sumber kebaikan dan keburukan seseorang. Maka tak heran tatkala Allah menjadikan kebersihan hati sebagai pertanda keselamatan bagi seseorang di hari kiamat. Seperti dalam firman Allah:
(يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ * إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ)[الشُّعَرَاءِ: 88-89]،
"(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih," (QS. Asy Syu'ara': 88-89)
وَقَالَ: (وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ لَإِبْرَاهِيمَ * إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ)[الصَّافَّاتِ: 83-84].
"Dan sungguh, Ibrahim termasuk golongannya (Nuh). (Ingatlah) ketika dia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci," (QS. Ash Shaffat: 83-84)
Hadirin yang dirahmati Allah,
Seseorang yang cerdas adalah orang yang senantiasa mempesiapkan dan menginstropeksi dirinya, sembari mempersiapkan perbekalan kehidupannya setelah kematian. Sedangkan orang yang lalai adalah yang selalu mengikuti hawa nafsu namun berangan-angan bahwa Allah akan mengampuninya . Instrospeksilah diri kalian sebelum kalian menghadapi perhitungan Allah. Hitunglah amal kalian sebelum kelak kalian menghadapi perhitungan amal. Ketahuilah bahwa perhitungan amal kelak akan menjadi lebih ringan jika kalian menginstropeksi diri kalian sejak hari ini. Persiapkan dengan baik untuk menghadapi hari perhitungan amal secara besar-besaran di hadapan Allah.
(يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ)[الْحَاقَّةِ: 18].
"Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabbmu), tidak ada sesuatu pun dari kamu yang tersembunyi (bagi Allah)." (QS. Al Haqqah: 18)
اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الكُفْرَ وَالفُسُوقَ وَالعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ
اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِيْنِكَ، اللَّهُمَّ يَا مُصَرِّفَ القُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ؛
(رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ)[آلِ عِمْرَانَ: 8].
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِينَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحِّدِينَ وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ هَذَا البَلَدَ ءَامِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ المُسْلِمِينَ
اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا خَادِمَ الحَرَمَيْنِ الشَّرِيْفَيْنِ بِتَوْفِيْقِكَ، وَأَيِّدْهُ بِتَأْيِيْدِكَ، اللَّهُمَّ وَأَلْبِسْهُ ثَوْبَ الصِّحَّةِ وَالعَافِيَةِ، يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ، اللَّهُمَّ وَفِّقْهُ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، يَا سَمِيعَ الدُّعَاءِ،
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
=== IQOMAH ===

Posting Komentar untuk "Khutbah Jumat: Memperbaiki Hati"