Khutbah Jumat disampaikan oleh Syaikh Ali ibn Abdurrahman Al-Hudzaifi pada 19 Syawal 1443 H, dengan judul khutbah: الثبات على طاعة الله
Link khutbah jumat teks bahasa arab: Klik DISINI.
Khutbah Pertama:
الحَمْدُ لِلّٰهِ العَزِيزِ الغَفُورِ، الحَلِيمِ الشَّكُورِ، يَعْلَمُ خَائِنَةَ الأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ، أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا يُحْصِيهَا غَيرُهُ، مِمَّا نَعْلَمُ وَمِمَّا لَا نَعْلَمُ مِنَ الخَيرَاتِ وَمِنْ دَفْعِ المَكْرُوهَاتِ وَالشُّرُورِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِلَيهِ تُرْجَعُ الأُمُورُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَسَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، المَبْعُوثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، الَّذِي أَرْسَلَهُ اللهُ بِالهُدَى وَالنُّورِ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ السَّابِقِينَ إِلَى كُلِّ عَمَلٍ صَالِحٍ مَبْرُورٍ. أَمَّا بَعْدُ:
فَاتَّقُوا اللهَ -تَعَالَى- بِامْتِثَالِ مَا أَمَرَ، وَاجْتِنَابِ مَا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ، فَمَا فَازَ أَحَدٌ إِلَّا بِالتَّقْوَى، وَمَا شَقِيَ أَحَدٌ إِلَّا بِالإِعْرَاضِ وَاتِّبَاعِ الهَوَى، قَالَ اللهُ تَعَالَى: (فَأَمَّا مَنْ طَغَى * وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا * فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى * وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى * فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى)[النَّازِعَاتِ: 37-41].
Hadirin yang dirahmati Allah,
Ketahuilah bahwa keberhasilan, kesuksesan dan kebahagiaan seseorang di dunia maupun di akhirat tidak dapat dicapai kecuali dengan ketaatan kepada Rabb semesta alam. Ketaatan kepada Allah tidaklah dapat diwujudkan kecuali dengan menunaikan perintah serta meninggalkan seluruh larangan Allah. Orang-orang yang mengerjakan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya maka mereka seperti orang-orang yang difirmankan oleh Allah:
(وَمَن یُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا * ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا)[النِّسَاءِ: 69-70]
"Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang orang salih. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. * Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan cukuplah Allah yang Maha Mengetahui." (QS. An Nisaa': 69-70)
Sementara itu orang yang melaksanakan perintah Allah akan tetapi juga masih mengerjakan maksiat, maka ia terhitung mentaati Allah pada waktu melaksanakan perintah, dan terhitung membangkang kepada Allah pada saat waktu bermaksiat. Maksiat kepada Allah dapat mencederai ketaatan seorang hamba dan mengurangi pahalanya. Bahkan, maksiat dapat membatalkan pahala kebaikan manakala kemaksiatan yang dilakukan adalah berupa pembatal kebaikan. Oleh sebab itu, barangsiapa bertekad untuk menjadi hamba yang betul-betul taat kepada Allah dengan ketaatan yang sempurna, maka hendaknya ia memadukan antara dua hal, yaitu melaksanakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Sebagaimana firman Allah:
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ)[مُحَمَّدٍ: 33]
"Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan janganlah kamu merusak segala amalmu.” (QS. Muhammad: 33)
Maksudnya adalah janganlah membatalkan amal shalih dengan berbuat maksiat setelahnya. Allah juga berfirman:
(قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * وَأُمِرْتُ لِأَنْ أَكُونَ أَوَّلَ الْمُسْلِمِينَ * قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ * قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي)[الزُّمَرِ: 11-14]
"Katakanlah, "Sesungguhnya aku diperintahkan agar menyembah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. * Dan aku diperintahkan agar menjadi orang yang pertama-tama berserah diri." * Katakanlah, "Sesungguhnya aku takut akan azab pada hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku." * Katakanlah, "Hanya Allah yang aku sembah dengan memurnikan ibadah-Ku kepada-Nya." (QS. Az Zumar: 11-14)
Allah juga berfirman di ayat yang lain:
(وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا)[النَّحْلِ: 92]
"Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai-berai kembali." (QS. An Nahl: 92)
Hal ini berlaku untuk setiap amal kebaikan yang diiringi dengan perbuatan maksiat yang kemudian dapat merusaknya. Para Ahli Tafsir memberikan penjelasan dalam firman Allah:
(أَيَوَدُّ أَحَدُكُمْ أَنْ تَكُونَ لَهُ جَنَّةٌ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ لَهُ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَأَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهُ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَاءُ فَأَصَابَهَا إِعْصَارٌ فِيهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ)[الْبَقَرَةِ: 266]
"Adakah salah seorang di antara kamu yang ingin memiliki kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, di sana dia memiliki segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tuanya sedang dia memiliki keturunan yang masih kecil-kecil. Lalu kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, sehingga terbakar.Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkannya." (QS. Al Baqarah: 266)
Dalam ayat tersebut, Allah telah memberi gambaran dan dampak negatif dosa-dosa yang dapat menghapus dan menggugurkan pahala, dan kita berlindung kepada Allah karenanya.
Dari Tsauban radhiyallaahu 'anhu, dari Nabi ﷺ bersabda:
"لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ القِيَامَةِ بِأَعْمَالٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بَيْضَاءَ، فَيَجْعَلُهَا اللهُ هَبَاءً مَنْثُورًا، قَالَ ثَوْبَانُ: يَا رَسُولَ اللهِ، صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا، أَلَّا نَكُونَ مِنْهُمْ، قَالَ: أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ، وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللهِ انْتَهَكُوهَا" (رواه ابن ماجه، وهو حديث صحيح)
"Sungguh aku telah mengetahui bahwa akan ada suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih, lantas Allah menjadikannya sia-sia." Tsauban berkata, "Wahai Rasulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka kepada kami, dan jelaskanlah tentang mereka kepada kami, supaya kami tidak menjadi seperti mereka." Rasulullah ﷺ menjawab, "Sesungguhnya mereka adalah saudara-saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka shalat malam sebagaimana kalian mengerjakannya, tetapi mereka adalah kaum yang jika kembali kepada apa yang diharamkan Allah, maka mereka terus mengerjakannya." (Hadits Shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah)
Dalam hadits tersebut terdapat ancaman keras dan teguran bagi siapa saja yang rasa takutnya kepada Allah tidak menghalanginya dari melakukan hal-hal yang diharamkan, juga sebagai peringatan untuk mereka yang mengerjakan keburukan setelah menunaikan kebaikan.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Sesungguhnya Allah telah menganugerahkan pertolongan dan taufik-Nya kepada kita sehingga kita pun mampu mengerjakan ketaatan dan amal kebaikan pada bulan yang penuh kebaikan dan keberkahan yaitu Ramadhan. Allah telah menjaga kita dari seluruh amalan yang membinasakan , Allah telah membatasi gerak-gerik setan yang selalu mengajak kepada hal-hal yang dilarang lagi menyesatkan. Pada bulan Ramadhan, waktu-waktu kita bersih dari dosa-dosa, setiap jam kita lalui dengan kebaikan, seperti tilawah dan mendengarkan lantunan Al-Qur’an. Kondisi hati kita kala itu juga lebih terjaga sebab ketaatan yang kita kerjakan untuk Allah yang Maha Pengasih, godaan setan mampu dikendalikan, dan tolong menolong dalam kebaikan dapat kita wujudkan. Sungguh musuh Allah, yaitu setan adalah makhluk yang tercela lagi terusir dari surga, ia senantiasa berusaha mewujudkan dendamnya kepada kita setelah terbebas dari belenggu yang membelenggunya selama Ramadhan, yaitu dengan menjerumuskan seseorang sehingga amal kebaikan menjadi debu yang beterbangan. Ia ingin mengubah ketakwaan menjadi kedurhakaan, dan kebaikan menjadi keburukan, ia berjuang sekuat tenaga untuk menyesatkan manusia agar menemaninya menjadi penghuni neraka jahanam yang merupakan seburuk-buruk tempat kembali. Allah berfirman:
{إِنَّ ٱلشَّیۡطَـٰنَ لَكُمۡ عَدُوࣱّ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّاۚ إِنَّمَا یَدۡعُوا۟ حِزۡبَهُۥ لِیَكُونُوا۟ مِنۡ أَصۡحَـٰبِ ٱلسَّعِیرِ}
"Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (QS. Fathir: 6)
Cara menjadikan setan sebagai musuh adalah dengan tetap teguh dalam mengerjakan kebaikan dan meninggalkan kemaksiatan, sungguh keberuntungan akan digapai oleh orang -orang yang menyertai ketaatan dengan ketaatan yang lainnya, keselamatan akan diraih oleh orang yang mengiringi keburukan dengan berbuat kebaikan setelahnya. Allah berfirman:
{ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَیِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفࣰا مِّنَ ٱلَّیۡلِۚ إِنَّ ٱلۡحَسَنَـٰتِ یُذۡهِبۡنَ ٱلسَّیِّـَٔاتِۚ ذَ لِكَ ذِكۡرَىٰ لِلذَّ كِرِینَ }
“Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).” (QS. Hud: 114)
Seorang mukmin adalah pribadi yang selalu berusaha memperbaiki amal perbuatannya dan selalu memohon husnul khatimah kepada Allah. Oleh karena itu, setan tidak pernah merasa dihinakan kecuali ketika seorang hamba berdoa kepada Allah memohon husnul khatimah dan istiqomah dalam melaksanakan ketaatan dan meninggalkan hal-hal yang dilarang. Sebaliknya, celakalah orang yang mengiringi keburukan dengan keburukan lainnya hingga ajal menjemputnya sedang ia sedang dalam kondisi terus terbuai oleh hawa nafsunya. Ketika hal itu terjadi, tidak ada yang dapat mencegahnya, dan kelezatan yang ia nikmati selama ini menjadi tidak berguna dan ia hanya akan merasakan penyesalan dan kesedihan tiada akhirnya. Allah berfirman:
{ أَفَرَءَیۡتَ إِن مَّتَّعۡنَـٰهُمۡ سِنِینَ * ثُمَّ جَاۤءَهُم مَّا كَانُوا۟ یُوعَدُونَ * مَاۤ أَغۡنَىٰ عَنۡهُم مَّا كَانُوا۟ یُمَتَّعُونَ }
“Maka bagaimana pendapatmu jika kepada mereka Kami berikan kenikmatan hidup beberapa tahun, * kemudian datang kepada mereka azab yang diancamkan kepada mereka, * niscaya tidak berguna bagi mereka kenikmatan yang mereka rasakan.” (QS. Asy Syu’ara: 205-207)
Allah juga berfirman di ayat yang lain:
{وَحِیلَ بَیۡنَهُمۡ وَبَیۡنَ مَا یَشۡتَهُونَ كَمَا فُعِلَ بِأَشۡیَاعِهِم مِّن قَبۡلُۚ إِنَّهُمۡ كَانُوا۟ فِی شَكࣲّ مُّرِیبِۭ}
“Dan diberi penghalang antara mereka dengan apa yang mereka inginkansebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang sekelompok dengan mereka yang terdahulu. Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) dalam keraguan yang mendalam.” (QS. Saba’: 54)
Kehidupan akan menjadi saksi bagi nasib dua golongan manusia, orang yang bahagia adalah orang yang mau mengambil pelajaran sedangkan orang yang sengsara adalah orang yang berpaling dari petunjuk dan lalai ketika di dunia.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Sesungguhnya kalian tidak akan menjumpai Rabb kalian dengan membawa harta, keluarga, dan teman baik. Kalian pun tidak akan menemui Allah dengan membawa kejaminan keselamatan dari adzab neraka. Sesungguhnya kalian akan menghadap Allah dengan amal perbuatan. Apabila amal kalian baik maka akan dimudahkan dalam menjawab pertanyaan malaikat munkar dan nakir di dalam kubur. Kemudian kalian akan diberi kabar gembira berupa nikmat yang abadi. Sebaliknya apabila amal kalian buruk maka akan mendapati kesulitan dalam menjawab pertanyaan malaikat, kemudian akan diberi berita buruk berupa adzab pedih yang menanti. Allah berfirman:
(وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَى إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ)[سَبَأٍ: 37]
“Dan bukanlah harta atau anak-anakmu yang mendekatkan kamu kepada Kami; melainkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda atas apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga).” (QS. Saba’ 37)
Perniagaan terbaik adalah dengan mentaati Rabb semesta alam. Demikian pula keberuntungan, kebahagiaan dan kemuliaan sejatinya diperoleh dengan menaati Allah. Ketaatan itu akan bermanfaat dan berguna apabila terkumpul padanya hal-hal berikut:
- Pertama, adalah ikhlas yaitu melaksakan ketaatan itu karena mengharap wajah Allah semata, bukan karena riya’ atau sum’ah.
- Kedua, hendaknya ketaatan itu dilandasi oleh petunjuk Nabi Muhammad ﷺ dan sunnahnya.
- Ketiga, hendaknya ketaatan itu selamat dari pembatal dan perusaknya.
- Keempat, istiqomah dalam melaksanakan ketaatan hingga ajal menjemput.
Sebagaimana firman Allah:
(وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ)[الْحِجْرِ: 99]
Para ahli tafsir berkata, “Bahwa Al Yaqin adalah kematian, karena ia adalah sesuatu yang pasti. Hal itu juga didasari sabda Nabi ﷺ:
أمَّا عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونَ فَقَدْ أَتَاهُ اليَقِينُ؛ أَيْ المَوْتُ
“Bahwa ‘Utsman ibn Madz’un telah datang kepadanya Al Yaqin.” Maksudnya adalah kematian.
Barangsiapa menyatakan bahwa jika seorang hamba telah mencapai derajat al yaqin dalam keimanan maka ia tidak berkewajiban menjalankan syariat, maka dia tidak ada ubahnya seperti setan yang sangat jahat, sesat lagi menyesatkan. Ia tidak memiliki sedikitpun keislaman walau sebesar biji sawi pun, meskipun dia telah bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, karena ucapan itu merupakan pembatal dua kalimat syahadat. Sedangkan orang yang mengucapkan kalimat itu dan orang-orang yang sejalan dengannya merupakan wali-wali setan, mereka bukanlah wali-wali Allah. Meskipun keajaiban dan hal-hal diluar nalar sering terjadi dan muncul pada diri mereka, namun pada hakikatnya itu adalah perbuatan setan untuk menyesatkan manusia. Para wali Allah adalah orang-orang yang senantiasa mengerjakan shalat, rukun islam dan selainnya. Mereka merealisasikan tauhid dengan memurnikan ibadah, berdoa, kurban dan nadzar serta memohon pertolongan hanya kepada Allah semata. Mereka menetapkan nama-nama, sifat dan perbuatan bagi Allah tanpa disertai takwil, ta’thil dan tahrif. Sebagaimana jalan yang ditempuh oleh para sahabat, tabi’in dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka dengan baik.
Apakah kewajiban syariat gugur dari Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya? Adakah Rasulullah menyembunyikan kebenaran dari umatnya, lantas orang-orang sesat lagi bodoh itu mengetahui kebenaran tersebut? Alangkah besar kedustaan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya ﷺ dalam ucapan mereka,
"الشَّرِيعَةُ لَهَا ظَاهِرٌ وَبَاطِنٌ
“Syariat islam terdiri dari dua aspek yaitu lahir dan batin.”
Atau ucapan lainnya,
"الإِسْلَامُ شَرِيعَةٌ وَحَقِيقَةٌ"
“Islam terdiri dari aspek syariat dan aspek hakikat.”
Mereka justru dapat mengetahui perkara batin dan kebenaran itu, mereka itulah sejatinya adalah musuh agama, bahkan musuh kemanusiaan karena telah menghalangi manusia dari jalan Allah. Mereka juga mementahkan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah, bahkan mengadakan permusuhan kepada Allah. Benarlah sabda Rasulullah ﷺ yang berbunyi:
فَقِيهٌ وَاحِدٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ
“Seorang ahli fiqih lebih ditakuti setan daripada seribu orang ahli ibadah.”
Maka beribadahlah kepada Rabbmu wahai saudaraku sesama muslim, selama nyawa masih di kandung badan. Waspadalah dari berbagai kebidahan yang bertentangan dengan apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Allah berfirman:
(فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ)[هُودٍ: 112]
“Maka tetaplah engkau (Muhammad di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertaubat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112)
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرآنِ العَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ، وَنَفَعَنَا بِهَدْيِ سَيِّدِ المُرْسَلِينَ وَقَوْلِهِ القَوِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِلمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua:
الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ، المَلِكِ الحَقِّ المُبِينِ، أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالبَاطِنَةِ، الَّتِي نَعْلَمُ وَالَّتِي لَا نَعْلَمُ، وَأَشْهَدُ ألَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةَ حَقٍّ وَيَقِينٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا وَسَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الصَّادِقُ الوَعْدُ الأَمِينُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ: فَاتَّقُوا اللهَ سِرًّا وَعَلَانِيَةً، فَرَبُّكُمْ أَهْلُ التَّقْوَى وَأَهْلُ المَغْفِرَةِ.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Telah berlalu bulan yang merupakan momen ibadah dan penambahan pahala, dan Allah masih membukakan untuk umat ini sekian banyak pintu kebaikan dan amal shalih pasca Ramadhan. Amalan fardhu masih diwajibkan dan pahalanya akan selalu dilipat gandakan. Setiap amal shalih yang disyariatkan di bulan Ramadhan tetap disyariatkan di luar bulan Ramadhan, baik yang wajib maupun sunnah.
Allah adalah Rabb Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, di antara salah satu wujud kasihnya adalah Dia melanggengkan hal-hal yang dapat mendatangkan rahmat-Nya kepada para hamba, dan bahwa Dia tidak memutus karunia dan kebaikan-Nya dari mereka. Rabb kitalah satu-satunya Rabb yang berhak disembah dengan benar di langit maupun di bumi. Allah berfirman:
(وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ)[الزُّخْرُفِ: 84]
"Dan Dialah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi, dan Dialah Yang Mahabijaksana, Maha Mengetahui." (QS. Az Zukhruf: 84)
Dialah satu-satunya yang berhak disembah dengan benar setiap waktu, Dialah yang Maha Kaya dengan diri-Nya sementara seluruh makhluk sangat membutuhkan-Nya , tidak ada yang dapat hidup kecuali dengan rahmat, ilmu dan kuasa-Nya. Allah Mahasuci, Rabb yang paling berhak disembah, Rabb yang paling berhak untuk selalu diingat.
Bisyr Al Hafi pernah ditanya,
"إنَّ قَوْمًا يَجْتَهِدُونَ فِي رَمَضَانَ فَإِذَا ذَهَبَ رَمَضَانُ تَرَكُوا؟ قَالَ: بِئْسَ القَوْمُ لَا يَعْرِفُونَ اللهَ إِلَّا فِي رَمَضَانَ".
“Bagaimana pendapat anda tentang orang-orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh di bulan Ramadhan namun tak lagi bersungguh-sungguh setelah Ramadhan berlalu?” Bisyr pun menjawab, “Alangkah buruknya mereka yang tidak mengingat Allah kecuali di bulan Ramadhan saja.”
Di antara ibadah yang paling mudah adalah berdoa dan berdzikir kepada Allah, maka perbanyaklah doa dan dzikir. Buatlah musuh kalian dari para setan murka dengan istiqomah kalian dalam ketaatan dan kemaksiatan yang kalian tinggalkan. Sungguh setan terlaknat itu mengetahui bahwa rahmat Allah mencakup segala sesuatu dan bahwa jalan ketaatan amatlah banyak dan telah dipermudah oleh Allah. Nabi ﷺ telah mengajak kita untuk berpuasa selama 6 hari di bulan Syawal dan beliau menjelaskan jika disandingkan dengan pahala puasa Ramadhan pahalanya setara dengan pahala puasa setahun penuh, sebagaimana hadits yang diriwayatkan di Shahih Muslim.
عِبَادَ اللهِ: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)[الْأَحْزَابِ: 56].
وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: "مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا"، فَصَلُّوا وَسَلِّمُوا عَلَى سَيِّدِ الأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ وَإِمَامِ المُرْسَلِينَ.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
اللَّهُمَّ وَارْضَ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، الأَئِمَّةِ المَهْدِيِينَ الَّذِينَ قَضَوا بِالحَقِّ وَبِهِ كَانُوا يَعْدِلُونَ؛ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ وَعَنِ التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينَ، اللَّهُمَّ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَرَحْمَتِكَ وفضلك يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الكُفْرَ وَالكَافِرِينَ وَالشِّرْكَ وَالمُشْرِكِينَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّينَ، يَا رَبَّ العَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ, وَانْصُرْنَا عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٍ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ, اللَّهُمَّ انْصُرْ دِينَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ فِي كُلِّ زَمَانٍ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ يَا رَبَّ العَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيهَا مِنْ قَوْلٍ أََوْ عَمَلٍ وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَمْوَاتِنَا وَأَمْوَاتِ المُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ نَوِّرْ عَلَيهِمْ قُبُورَهُمْ اللَّهُمَّ زِدْ بِحَسَنَاتِهِمْ وَتَجَاوَزْ عَنِ سَيِّئَاتِهِمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ, اللَّهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ عَلَى الطَّاعَاتِ وَهَجْرِ المُحَرَّمَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا مَا قَدَّمْنَا وَمَا أَخَّرْنَا وَمَا أَسْرَرْنَا وَمَا أَعْلَنَّا وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا، أَنْتَ المُقَدِّمُ وَأَنْتَ المُؤَخَّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ.
اللَّهُمَّ أَعِذْنَا وَأَعِذْ ذُرِّيَّاتِنَا مِنْ إِبْلِيسَ وَذُرِّيَّتِهِ وَأَوْلِيَائِهِ يَا رَبَّ العَالَمِينَ وَشَيَاطِينَ الإِنْسِ وَالجِنِّ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٍ, اللَّهُمَّ أَعِذِ المُسْلِمِينَ وَذُرِّيَّاتِهِمْ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ يَا رَبَّ العَالَمِينَ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٍ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تُوَفِّقَ خَادِمَ الحَرَمَينِ الشَّرِيفَينِ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، اللَّهُمَّ وَفِّقْهُ لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِينَ, اللَّهُمَّ وَأَلْبِسْهُ ثَوبَ الصِّحَّةَ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٍ, اللَّهُمَّ انْصُرْ بِهِ دِينَكَ، اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ عَهْدِهِ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، اللَّهُمَّ وَفِّقْهُ لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ، وَأَعِنْهُ عَلَى كُلِّ خَيْرٍ يَا رَبَّ العَالَمِينَ، وَانْصُرْ بِهِ دِينَكَ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا مِنْ كَيْدِ الكَافِرِينَ وَكَيْدِ المُبْتَدِعِينَ وَعُدْوَانَ الظَّالِمِينَ اللَّهُمَّ احْفَظْهَا مِنْ شَرِّ الأَشْرَارِ وَكَيْدِ الفُجَّارِ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
اللَّهُمَّ تَوَلَّ أَمْرَ كُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ وَأَمْرَ كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ اللَّهُمَّ اكْشِفْ وَارْفَعْ عَنِ المُسْلِمِينَ الكُرُبَاتِ وَالشَّدَائِدَ وَالعُقُوبَاتِ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٍ، اللَّهُمَّ اجْعَلْ بِلَادَنَا آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً وَسَائِرَ بِلَادِ المُسْلِمِينَ يَا رَبَّ العَالَمِينَ, اللَّهُمَّ تُبْ عَلَينَا وَعَلَيهِمْ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٍ
(رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ)[الْبَقَرَةِ: 201].
عِبَادَ اللهِ: (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ)[النَّحْلِ: 90]، فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيمَ الجَلِيلَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَالله يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
== IQOMAH ==

Posting Komentar untuk "Khutbah Jumat: Teguh dalam Ketaatan kepada Allah"